Tampilkan postingan dengan label WISATA SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Mei 2017

SITU WANGI



Situ Wangi  terletak di Dusun Hayawang, Desa Winduraja, dan berbatasan langsung dengan Desa Citeureup dan Purwasari, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Ketua Yayasan Galuh Etnic Winduraja, Atus Gusmara, menjelaskan, saat ini tedapat dua versi cerita mengenai sejarah awal mula keberadaan Situ Wangi
Cerita yang pertama, kata Atus, diawali saat Raja Galuh pertama, keturunan brata legawa, atau lebih akrab dikenal haji purwa galuh (Prabu Wangi), pergi ke mekah untuk berhaji. Sepulang dari mekah, Haji Purwa Galuh tersebut membawa air zam-zam. Kemudian, sebagian air zam-zam tersebut dituangkan ke dalam situ, kemudian lahirlah nama Situ Wangi.
Cerita yang kedua, kata Atus, nama Situ Wangi diambil dari nama seorang penari ronggeng yang dulu mencurahkan keluh kesahnya dengan mendatangi situ tersebut, nama seorang penari itu Nyi mas Sri Wangi.
Lebih lanjut, Atus mengungkapkan, saat Situ Wangi diresmikan, para tamu undangan disuguhi ikan mas. Ikan mas itu kemudian dimakan, tapi bagian kepalanya tidak. Ikan itu selanjutnya dilemparkan ke dalam Situ Wangi. Seketika, ikan mas itu hidup kembali. Ikan mas itu diberi nama si Rawing.
“Ada lagi cerita, ikan mas yang disuguhkan saat pembukaan, hanya dimakan pada bagian perutnya saja. Ikan itu kemudian hidup kembali setelah dilemparkan ke dalam situ. Ikan itu kemudian dinamai Kohkol,” ucapnya.
Selanjutnya, lanjut Atus, seandainya Situ Wangi itu dipancing, maka ikan yang ada di dalamnya akan pindah ke Situ Panjalu. Ikan-ikan itu dibawa Kohkol, dimana bagian perutnya yang berlubang membawa air menuju Situ Panjalu. Air itu digunakan untuk memubuat jalan yang dilalui ikan menjadi licin. Ikan Kohkol itu biasanya diikuti ikan lele berukuran besar di belakangnya.
 

SITU LENGKONG PANJALU


Obyek wisata Situ Lengkong Panjalu, sesuai namanya, adalah sebuah danau seluas 57,95 hektar (situ = danau dalam bahasa Sunda) yang terletak di Kecamatan Panjalu, Ciamis utara, sehingga dikenal juga sebagai Situ Lengkong Panjalu, atau Situ Panjalu saja. Danau dengan kedalaman berkisar antara 4 sampai 6 meter tersebut, istimewanya, juga memiliki sebuah pulau (nusa) seluas 9,25 hektar yang disebut Nusa Larang atau Nusa Gede.
Situ Lengkong Panjalu berada pada kordinat 7 7′ 49.56″ S, 108 16′ 21.26″ E. Di sebelah utara, situ ini berbatasan dengan wilayah Talaga Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan.
Untuk mencapai obyek Situ Lengkong cukup mudah.  Dari arah Bandung dapat ditempuh melalui jalur Ciawi, Panumbangan, Panjalu, dengan jarak sekitar 100 Km. Sedangkan dari Ciamis, berjarak sekitar 35 km melalui jalur Buniseuri, Kawali dan sampai di Panjalu.
Berada di ketinggian sekitar 70 meter dpl, Situ Lengkong merupakan perpaduan antara objek wisata alam dan objek wisata budaya. Di objek wisata ini pengunjung dapat menyaksikan keindahan danau yang berudara sejuk dan berperahu mengelilingi nusa.

CIDEHEM PANJALU


Mata air Cidehem yang berada di kerimbunan bukit Dusun Citaman Desa Sanding Taman Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis Jawa Barat, sampai saat ini belum banyak yang mengetahui dan belum tergali potensinya. Padahal, jika mata air Cidehem dikelola dengan baik bisa menjadikan daya tarik wisata bagi Kabupaten Ciamis.

KAMPUNG ADAT KUTA


Kampung Adat Kuta adalah sebuah dusun adat yang sampai saat ini masih teguh memegang budaya adat leluhur. Komunitas ini berada di Desa Karangpaninggal Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis, sekitar 60 Km dari Kota Ciamis ke arah timur.
Kampung Kuta terdiri atas 2 RW dan 4 RT. Kampung ini berbatasan dengan Dusun Cibodas di sebelah utara, Dusun Margamulya di sebelah barat, dan di sebelah selatan dan timur dengan Sungai Cijulang, yang sekaligus merupakan perbatasan wilayah Jawa Barat dengan Jawa Tengah.
Ada beberapa versi mengenai asal usul Kampung Adat Kuta. Penduduk setempat percaya, sejarah Kampung Kuta berkaitan dengan pendirian kerajaan Galuh. Kampung Kuta konon awalnya dipersiapkan sebagai ibukota kerajaan Galuh, namun tidak jadi.

KARANG KAMULYAN


Situs Karangkamulyan adalah sebuah situs peninggalan Kerajaan Galuh. Situs ini terletak antara Ciamis dan Banjar, jaraknya sekitar 17 km ke arah timur dari kota Ciamis, tepatnya di Desa Karangkamulyan, Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat. Kata “karang kamulyan” sendiri berarti “tempat yang dimuliakan”. Komplek situs berupa hutan dengan luas 25,5 hektar, tepat berada di pinggir jalan raya yang menghubungkan Ciamis – Banjar. Batas situs di sebelah utara adalah jalan raya, sebelah timur Sungai Cimuntur, sebelah selatan Sungai Citanduy, dan sebelah barat rest area.


ASTANA GEDE KAWALI

Situs Astana Gede Kawali terletak di Dusun Indrayasa, Kecamatan Kawali, sekitar 21 km dari kota Ciamis ke arah Utara. Di dalam situs ini terdapat banyak peninggalan arkeologis. 

Dari kota Ciamis, Situs ini dapat ditempuh dengan kendaraan, baik motor ataupun mobil, sekitar empat puluh lima menit. Kondisi jalan cukup baik karena sudah diaspal. Tarif masuk ke situs Astan Gede Kawali sebesar Rp. 2.000,-

Konon situs dinamakan Astana Gede karena terdapat sebuah makam yang ukurannya besar, panjang sekali dan berbeda dengan makam-makam lain pada umumnya. Dalam bahasa Sunda, astana berarti makam dan gede berarti besar. Namun ada juga yang berpendapat karena Situs Astana Gede merupakan tempat dimakamkannya orang-orang besar, atau dalam bahasa Sunda disebut gegeden. Makam tersebut diduga adalah makam Pangeran Usman, yang memerintah pada 1592 – 1643 M. Beliau sudah memeluk agama Islam yang merupakan keturunan dari Kesultanan Cirebon.

 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review